Translate

Sabtu, 21 Maret 2015

Dialektika Seorang Politikus


                                                                 Teriakan Keadilan


malam ini hatiku gundah gulana kawan dari suasana sunyi, dan pedih tatkala lelahku hadir kembali setelah melihat mereka yang tertawa ceria dibalik luka menghempit jiwa
untuk sebuah kisah yang bercerita tentang negara kita INDONESIA
untuk mereka yang katanya kaya akan sumber daya alamnya, begitu pula dengan hasilnya yang berlimpah ruah,
serta panorama alamnya yang kini telah di jadikan wisata yang katanya seperti syurga siapa pun bisa melihatnya, 
sungguh indah kuasa tuhan, adil nan bijaksana cara iya menata rapi mengelola indah wujud dunia, 
tapi sayang hanya itu yang bisa ku ungkapkan lewat hati kecilku yang belum mampu teriakkan suara suara mereka yang hingga saat ini belum bisa merasakan nikmat kenyang dari keleparan,
hanya sebiji dari ribuan biji yang dapat di nikmati,untuk tangan tangan mereka yang telah lama menggali harta bumi,
kesejahteraan yang di umbar-umbar janji, kini hanya sebatas untuk mereka yang berkoalisi dalam dusta nestapa yg sibuk mencari tahta, 
yang kaya "tamak mencari harta" dan si miskin hanya sebagai jembatan buat mereka, yang datang mengemis tak bermuka,, 
kopi tanpa gula serasa manis di cibir bibir rayu suaranya seperti syair yang bernada namun pada akhirnya sumbang juga di telinga,gambar gambar dajjal di pajang di sudut kota dan desa dengan segala inspirasi yang tertulis dengan puitisnya,
sungguh aku malu membacanya,,,,

hati meraung pergi berlari mencari jejak mereka yang asyik sembunyi, aku ingin singa singa itu kembali lagi agar tak sepi,sendiri mencari arti,dari isi puisi yang berkumandang kalimat orasi tuk kembalikan syurga kami yang telah hancur bersama jiwa yang telah letih, 
tak cukup kah dosa" yang menghukummu atas perbuatan hina di mata mereka
sungguh engkau manusia tak punya muka pantaslah neraka sebagai istana untuk kehidupanmu yang sebenarnya..
masih kah ada hati yang ingin berjuang dalam nurani..???
hukum diatas hukum, takut mati berarti tak berani ...
apakah sembunyi disela" ruang kekosongan hanya bisu terdiam seperti budak, 

menjadikanmu lebih berarti dalam keterpurukan keadaan yang masih tetap mencari sosok kebanggaan atas prestasi lewat syarat dan aturan yg selalu saja di beli dengan uang mereka.???? 
alangkah malang negeri yang masih saja dihuni oleh mereka yang tak mengerti dirinya sendiri dan tak paham apa yang sedang terjadi !!!!!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar